BMKG Imbau Waspada Banjir dan Longsor Jelang Puncak Hujan

waktu baca 3 menit
Rabu, 21 Okt 2026 16:13 6 Nandang Permana

Kurvanews, JAKARTA-Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani mengimbau seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah. Imbauan ini disampaikan menjelang puncak musim hujan mendatang. Adapun potensi banjir dan tanah longsor perlu diantisipasi sejak sekarang.

Imbauan tersebut disampaikan saat menghadiri Sidang Kabinet Paripurna dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Kegiatan berlangsung di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Faisal menjelaskan bahwa durasi puncak musim hujan diprediksi terkonsentrasi dalam kurun waktu lebih singkat. Kondisi ini meningkatkan frekuensi hujan lebat hingga ekstrem yang memicu potensi banjir dan tanah longsor.

“Puncak musim hujan nanti ada dalam tiga bulan: Desember, Januari, dan Februari. Sifat hujannya normal, artinya curah hujan yang akan jatuh sama dengan rata-rata klimatologis 30 tahun terakhir, tetapi periodenya lebih pendek, sehingga nanti akan terjadi hujan lebat, sangat lebat, hingga hujan ekstrem lebih sering di akhir tahun hingga awal tahun depan. Bencana meteorologi basah yaitu banjir, longsor itu juga perlu kita antisipasi dari mulai sekarang,” kata Faisal di Jakarta.

Awal Musim Hujan Mundur akibat El Nino

Mengenai awal musim hujan, Faisal menerangkan bahwa fenomena El Nino yang kuat telah menyebabkan pergeseran jadwal awal musim kemarau dan hujan. Akibatnya, sebagian besar wilayah Indonesia baru akan memasuki musim hujan pada pertengahan hingga akhir November serta Desember.

“Kalau masuknya musim hujan, karena ini kebetulan kemarau kita bertepatan dengan El Nino sangat kuat, maka masuknya musim hujan agak mundur, kemudian nanti kira-kira banyaknya masuk di bulan November hingga Desember,” tuturnya.

Di samping menyiapkan antisipasi bencana basah, BMKG saat ini juga intensif melakukan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Penanganan berlangsung pada masa transisi sebelum hujan turun secara merata. Langkah itu dilakukan bersama BNPB dan Badan Pengelola Gambut Nasional, khususnya di Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

“Hari ini Sidang Kabinet Paripurna, dua tahun pemerintahan Bapak Prabowo. Jadi saat ini untuk BMKG sendiri secara intensif melakukan dukungan untuk dapat mengendalikan kebakaran hutan dan lahan,” ujar Faisal.

Teknologi OMC Bongkar Lapisan Inversi Asap

Guna menanggulangi asap pekat akibat karhutla, BMKG menerapkan teknologi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) berbasis analisis saintifik. Teknologi ini menggabungkan penggunaan dry ice dan garam (NaCl). Teknik tersebut dirancang untuk membongkar lapisan inversi yang menangkap asap di ketinggian 6.000 hingga 7.000 kaki.

“Dry ice itu adalah untuk mengurangi kepekatan asap dengan membongkar lapisan inversi yang membuat asap terperangkap di bawah ketinggian 6.000-7.000 kaki. Kemudian setelah asapnya naik, sinar matahari bisa masuk, memicu penguapan dan kemudian dapat terbentuk awan hujan. Nah setelah itu kita baru semai dengan NaCl,” paparnya.

Faisal menambahkan, kolaborasi teknik modifikasi cuaca itu juga melibatkan kerja sama dengan Thailand. Kolaborasi tersebut terbukti berhasil memperbaiki kualitas udara dan jarak pandang di sejumlah lokasi terdampak karhutla.

“Saya kira banyak berita bahwa terjadi hujan di Sumatera Selatan, di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dengan sangat intensif setelah dilakukannya OMC dengan menggabungkan antara dry ice dan NaCl. Kualitas udaranya juga membaik beberapa hari terakhir, visibility jauh bertambah, bandara di Sumatera Selatan yang tadinya tertutup sekarang sudah terbuka,” pungkasnya.

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA