Kurvanews.com, BOGOR – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan seorang siswa sekolah dasar asal Jonggol, Kabupaten Bogor. Nathan Mikhail Simanjuntak, siswa SD Amal Kasih Jonggol, terus menunjukkan kemampuannya di bidang matematika dan sains melalui berbagai kompetisi tingkat nasional hingga internasional.
Di usianya yang masih belia, Nathan telah mengoleksi sejumlah penghargaan dari berbagai ajang perlombaan. Pencapaian tersebut tidak diraih secara instan, melainkan melalui proses belajar, latihan, kedisiplinan, serta dukungan penuh dari keluarga.
Lahir pada 15 November 2019, Nathan merupakan anak ketiga dari pasangan Sunggul Goldfrits Simanjuntak dan Andhini Megasari. Ketertarikannya terhadap dunia berhitung mulai terlihat sejak usia dini.
Salah satu metode pembelajaran yang ditekuni Nathan adalah International Math Arithmetic (IMA) atau metode sempoa. Melalui metode tersebut, kemampuan berhitung dan konsentrasinya terus diasah.
Sang ayah, Sunggul Goldfrits Simanjuntak, mengungkapkan bahwa dirinya bersama sang istri menerapkan pola pendidikan yang menekankan kemandirian dan kedisiplinan kepada anak-anaknya.
“Saya dan istri memang mengajarkan anak agar tidak manja. Nathan itu belum saya perbolehkan main gadget,” ungkap Sunggul.
Ia juga menceritakan bahwa ketertarikan Nathan terhadap sempoa sudah terlihat sejak usia lima tahun.
“Dari usia 5 tahun Nathan sudah aktif dan suka sama sempoa,” tambahnya.
Hasil dari proses belajar tersebut mulai terlihat melalui berbagai prestasi yang berhasil diraih Nathan. Salah satunya adalah juara ketiga dalam kompetisi internasional Mental Arithmetic.
Tidak hanya itu, Nathan juga berhasil meraih juara pertama dan medali emas pada bidang Matematika tingkat kabupaten/kota dalam Olimpiade Sains Indonesia (OSI) 3.
Kompetisi yang berlangsung di SMP Fajar Plus Depok pada Agustus 2026 tersebut menjadi salah satu pencapaian penting dalam perjalanan akademiknya. Keberhasilan itu sekaligus mengantarkannya memperoleh kesempatan melanjutkan kompetisi ke tingkat provinsi di Tangerang Selatan.
Nathan juga tercatat mengikuti Olimpiade Online Next Champion Indonesia dalam ajang kompetisi sains nasional Omnisains dengan mewakili sekolahnya.
Menembus Persaingan Matematika Internasional
Perjalanan Nathan tidak hanya berhenti di kompetisi tingkat nasional. Ia juga mengikuti Singapore Math Challenge (SMC) 2026, sebuah kompetisi matematika internasional yang diselenggarakan Singapore International Mastery Contests Centre (SIMCC).
Ajang tersebut dirancang untuk menguji kemampuan berpikir logis, analitis, serta keterampilan menyelesaikan persoalan matematika nonrutin berdasarkan pendekatan Singapore Math.
SMC 2026 diikuti 103.639 siswa dari 4.166 sekolah yang berasal dari 39 negara. Besarnya jumlah peserta tersebut menunjukkan ketatnya persaingan yang harus dihadapi para pelajar.
Dalam kompetisi ini, peserta tidak hanya dituntut menguasai rumus, tetapi juga mampu memahami persoalan dan menemukan strategi penyelesaian secara tepat.
Bagi Nathan, kesempatan mengikuti kompetisi internasional menjadi pengalaman berharga untuk mengukur kemampuan sekaligus menambah wawasan di bidang matematika.
SMC juga menjadi salah satu jalur kualifikasi menuju Singapore Math Global Finals (SMGF). Peserta yang memenuhi persyaratan prestasi, minimal Honorable Mention atau medali perunggu dalam kompetisi penyisihan resmi, berkesempatan melanjutkan perjuangan ke babak final global sesuai ketentuan penyelenggara.
Membawa Nama Jonggol, Berharap Mendapat Apresiasi
Di balik deretan prestasi tersebut, ada harapan besar yang disampaikan keluarga Nathan.
SD Amal Kasih Jonggol diketahui masih menginduk ke SD Amal Kasih Cibinong. Dalam sejumlah kegiatan dan pencatatan prestasi, capaian sekolah Jonggol disebut masih kerap membawa nama Amal Kasih Cibinong.
Kondisi tersebut membuat perjuangan Nathan memiliki makna tersendiri. Selain mengembangkan kemampuan akademik, ia juga ingin membawa nama sekolah tempatnya menuntut ilmu di Jonggol.
Keluarga berharap setiap pencapaian yang diraih Nathan dapat memperoleh perhatian dan apresiasi yang semestinya dari lingkungan sekolah.
Menurut keluarga, penghargaan terhadap perjuangan seorang siswa bukan semata-mata tentang medali atau gelar juara. Lebih dari itu, apresiasi merupakan bentuk dukungan moral agar anak semakin bersemangat mengembangkan potensi yang dimiliki.
Sunggul pun mengaku bersyukur melihat konsistensi putranya dalam mengikuti berbagai perlombaan.
“Puji Tuhan, Nathan selalu meraih juara di setiap lomba yang diikuti, mulai tingkat nasional maupun internasional,” tuturnya.
Prestasi Hari Ini, Bekal untuk Masa Depan
Perjalanan Nathan Mikhail Simanjuntak masih sangat panjang. Dengan usianya yang masih belia, berbagai penghargaan yang telah diraih diharapkan menjadi motivasi untuk terus belajar dan berkembang.
Prestasi di bidang matematika dan sains bukanlah akhir dari perjalanan. Justru, setiap kompetisi menjadi kesempatan untuk mendapatkan pengalaman, menghadapi tantangan baru, dan meningkatkan kemampuan diri.
Kisah Nathan sekaligus menjadi gambaran bahwa potensi anak berprestasi tidak hanya tumbuh di sekolah-sekolah besar atau kawasan perkotaan.
Dari Jonggol, Kabupaten Bogor, seorang siswa sekolah dasar berani melangkah dan menguji kemampuannya dalam kompetisi nasional maupun internasional.
Sebab, di balik setiap medali, ada proses panjang yang membutuhkan ketekunan, disiplin, dan dukungan orang-orang terdekat.
Nathan mungkin masih kecil. Namun, melalui semangat belajar dan deretan prestasi yang dirintisnya, ia telah menunjukkan bahwa mimpi besar bisa dimulai dari langkah sederhana.
Dari Jonggol, Nathan terus berjuang mengukir prestasi, membawa nama sekolah, sekaligus membuktikan bahwa usia dan lokasi bukanlah batas untuk meraih pencapaian.













Komentar