Keamanan siber bansos diperkuat BSSN lewat enkripsi menyeluruh. Data puluhan juta penerima manfaat Perlinsos dikunci berlapis/Ilustrasi: Kurvanewscom Kurvanews, JAKARTA-Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) memperkuat pengamanan infrastruktur data bantuan sosial nasional. Langkah ini menuntut pengawalan keamanan siber berlapis dan tanpa kompromi. Arus data sensitif dari puluhan juta keluarga penerima manfaat menjadi perhatian utama. Adapun aplikasi Perlindungan Sosial (Perlinsos) kini mendapat proteksi penuh dari otoritas sandi negara.
Konsolidasi Pertahanan Lintas Instansi
Kepala BSSN Nugroho Sulistyo Budi memimpin konsolidasi pertahanan lintas instansi di Jakarta, Rabu lalu (21/10/2026). Langkah itu merespons tingginya ancaman peretasan mahadata. Dalam forum tersebut, Nugroho mendesak seluruh pengelola sistem teknologi informasi kementerian memprioritaskan enkripsi tingkat tinggi.
Perlindungan kriptografi diwajibkan tidak hanya saat pertukaran informasi berlangsung. Data yang tersimpan di peladen maupun sistem cadangan juga harus dikunci. Selain itu, strategi pengamanan ganda dinilai krusial untuk meminimalkan dampak penyalahgunaan identitas.
Tanggung Jawab Data Melekat pada Kementerian
Terkait tata kelola, Kepala BSSN menegaskan tanggung jawab mutlak pelindungan data. Tanggung jawab itu melekat pada setiap kementerian dan lembaga sebagai pemilik sah sistem layanan.
Untuk menjamin kelayakan standar keamanan, BSSN berkomitmen menerjunkan tim khusus. Tim itu memberikan asistensi teknis, pemantauan proaktif, hingga validasi sistem secara berkala di lapangan.
Guna mempercepat eksekusi mitigasi, setiap institusi pengelola layanan diinstruksikan segera menunjuk penanggung jawab teknis. Penanggung jawab itu dibekali kewenangan penuh untuk mengambil keputusan. Adapun langkah taktis ini disiapkan agar agenda penguatan ekosistem Perlinsos tidak meleset dari target waktu pemerintah pusat.
Kolaborasi Lintas Sektor
Pekan lalu, kolaborasi pengamanan lintas sektor ini telah disepakati dalam rapat. Rapat itu dipimpin Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan.
Rapat tersebut merajut komitmen sejumlah kementerian dan lembaga. Di antaranya Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Sosial, Kementerian Komunikasi dan Digital, Kementerian PANRB, BSSN, dan Badan Pusat Statistik.
Dalam forum tersebut, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengingatkan pemanfaatan kecerdasan buatan untuk layanan publik. Menurutnya, pemanfaatan itu harus ditopang ketahanan infrastruktur jaringan yang mumpuni.
“Sebab lalu lintas data sedemikian banyak, perlu dilakukan verifikasi dan validasi. Saran kami, semua instansi yang terlibat dalam aplikasi ini memperkuat sistem IT mereka, terutama aspek storage, bandwidth, backup, dan cybersecurity,” tegas Tito.
Pengamanan Data Kependudukan
Arahan penguatan infrastruktur tersebut langsung direspons Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Teguh Setyabudi. Ia memastikan pangkalan data kependudukan nasional telah dipersenjatai pelapis keamanan optimal.
Pengetatan akses pangkalan data ini dirancang khusus mengamankan arus verifikasi biometrik pemindai wajah. Teknologi itu akan digunakan oleh jutaan warga.
Benteng pertahanan digital Perlinsos ini ditargetkan mampu memproses pendaftaran 40 hingga 50 juta keluarga secara serentak. Target itu hingga penghujung tahun 2026. Melalui kolaborasi keamanan paripurna ini, pemerintah bertekad menekan tingkat kesalahan sasaran bantuan hingga 50 persen. Selain itu, masyarakat diharapkan menerima pelayanan aman tanpa pungutan liar.
Tidak ada komentar