Kampung Nelayan Merah Putih Percepat Ketahanan Pangan

waktu baca 3 menit
Senin, 19 Okt 2026 13:20 22 Ninding Yulius

Kurvanews, JAKARTA-Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) menjadi program strategis nasional yang dioptimalkan pemerintah. Langkah ini mempercepat penguatan sektor kelautan dan ketahanan pangan nasional.

Strategi tersebut mentransformasi kawasan pesisir menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang produktif dan berkelanjutan.

Target 5.000 Titik pada 2029

Inisiatif ini bergulir sejak 2025 di bawah koordinasi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Program ini diproyeksikan mencakup hingga 5.000 titik lokasi di seluruh penjuru Nusantara pada 2029.

Pembangunan fasilitas ini mengacu pada amanat Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 2025. Inpres itu mengatur percepatan swasembada pangan, energi, dan air.

Potensi Perikanan Belum Terserap Maksimal

Dalam pidato kenegaraan pada Sidang Bersama MPR, DPR, dan DPD RI di Gedung Nusantara, Jakarta beberapa waktu lalu, Presiden Prabowo Subianto menyoroti potensi ekonomi sektor perikanan nasional. Potensi itu selama ini belum terserap maksimal oleh industri dalam negeri.

“Nilai perikanan kita setiap tahun adalah sekitar US$ 34 miliar, baru mungkin 5% yang dapat kita nikmati, sisanya diambil oleh kapal-kapal negara lain tanpa izin kita,” kata Presiden Prabowo Subianto.

Terpadu bersama KDKMP

Untuk mengikis kendala struktural tersebut, KNMP dirancang terpadu bersama Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Setiap kawasan dilengkapi infrastruktur penunjang.

Infrastruktur itu meliputi dermaga, tempat pelelangan, fasilitas cold storage, unit pengolahan, hingga area permukiman dan sarana sosial bagi masyarakat setempat.

Alokasi APBN yang dikucurkan melalui Kementerian Keuangan mencapai Rp1,1 triliun pada fase awal 2025. Dana itu merealisasikan 100 lokasi prioritas.

Lonjakan di Biak Numfor

Dampak modernisasi ini tercermin pada proyek percontohan KNMP Samber-Binyeri di Biak Numfor, Papua. Data KKP mencatat volume produksi perikanan di wilayah tersebut melonjak 121 persen.

Angka itu naik dari 552 kilogram menjadi 1.221 kilogram per bulan. Lonjakan kapasitas melaut dari 9 hari menjadi 13 hari memicu kenaikan pendapatan rata-rata nelayan hingga 89 persen.

Pendapatan nelayan naik menjadi Rp11,43 juta per bulan. Program ini juga memfasilitasi distribusi antarpulau sebanyak 231 ton ikan senilai Rp4,36 miliar.

Peningkatan di Sinjai

Capaian serupa tercatat di KNMP Desa Tongke-Tongke, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, yang beroperasi sejak pertengahan 2026. Kawasan ini memicu peningkatan penghasilan warga lokal dari Rp4 juta menjadi Rp7 juta per bulan.

Kawasan ini juga menembus pasar komersial melalui pengiriman produk olahan tuna loin secara berkala. Produk itu dikirim ke pusat-pusat industri nasional.

Kontinuitas Rantai Pasok

Ketua Satuan Tugas Operasionalisasi KNMP, Irjen Pol Victor Gustaaf Manoppo, menegaskan kontinuitas pengiriman rantai pasok perikanan. Menurutnya, hal itu menjadi indikator utama penguatan ekosistem bisnis kawasan.

“Ini tentu membawa dampak ekonomi yang lebih baik kepada para nelayan sekitar,” ujar Victor Gustaaf Manoppo dikutip laman resmi Sekretariat Negara Senin (19/10/2026).

Sambutan Positif Pemda Sinjai

Sementara itu, Pemerintah Daerah Kabupaten Sinjai menyambut positif integrasi fasilitas pengolahan dan pemasaran modern. Fasilitas itu dinilai mampu menjaga kualitas komoditas sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi warga pesisir.

“Program ini diproyeksikan mampu meningkatkan produksi perikanan rata-rata hingga kurang lebih 800 ton per tahun per lokasi dan mampu menaikkan pendapatan nelayan hingga 75 persen,” tutur Bupati Sinjai, Ratnawati Arif.

Pilar Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Ekspansi bertahap KNMP diharapkan menjadi benteng kedaulatan pangan wilayah laut Indonesia. Program ini juga diharapkan mengukuhkan kawasan pesisir sebagai pilar sentral dalam struktur pertumbuhan ekonomi nasional skala panjang.

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA