Kurvanews, JAKARTA-Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya, mendorong para santri memanfaatkan teknologi digital. Langkah itu untuk mengembangkan produk ekonomi kreatif berbasis pesantren.
Santri diharapkan tidak hanya menjadi afiliator atau reseller. Mereka juga mampu menciptakan produk kreatif dan memperluas pemasarannya melalui platform digital.
Hal tersebut disampaikan Riefky saat meluncurkan program Santri Melek Teknologi (Santri Matic) di Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan, Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu (31/10/2026).
Program hasil kolaborasi Kementerian Ekraf dengan Shopee Indonesia itu membekali 200 santri dari 22 pondok pesantren se-Solo Raya dengan keterampilan digital.
Potensi Pesantren Sangat Besar
Riefky mengatakan, pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari pengembangan ekonomi kreatif nasional. Terlebih, Indonesia memiliki sekitar 42 ribu pesantren dengan hampir lima juta santri. Jumlah itu dapat menjadi kekuatan dalam mendorong pertumbuhan sektor tersebut.
Menurutnya, kekayaan budaya, sejarah, tokoh lokal, hingga tradisi yang dimiliki pesantren dapat dikembangkan menjadi berbagai produk ekonomi kreatif. Pengembangannya didukung inovasi dan teknologi.
“Kreativitas para santri di pesantren sebenarnya tumbuh luar biasa. Pesantren memiliki akar budaya yang kuat berkaitan dengan sejarah daerahnya. Ketika kekuatan budaya tersebut disentuh dengan inovasi, teknologi, dan kreativitas, akan memberikan nilai ekonomi. Didukung dengan kedisiplinan yang ditanamkan dan keilmuan yang dijalankan sebetulnya platform digital juga bisa digunakan sebagai dakwah,” ujar Riefky dalam keterangan tertulis dikutip Senin, (2/11/2026).
Berbagai Subsektor Ekraf
Kemudian ia menyebut, potensi tersebut dapat dikembangkan ke berbagai subsektor ekonomi kreatif. Mulai dari penerbitan seperti komik dan novel, film, animasi, fesyen, kuliner, hingga merchandise.
Lebih lanjut, Riefky berharap kemampuan santri sebagai kreator konten dan afiliator dapat membantu memperluas pemasaran produk-produk kreatif pesantren. Produk itu termasuk fesyen, modest fashion, dan kuliner.
“Kami ingin kemampuan santri sebagai kreator konten dan afiliator juga dapat membantu mengakselerasi produk-produk kreatif pesantren, baik fesyen, kuliner, modest fashion, maupun hasil kreativitas lainnya sehingga mampu menjangkau pasar yang lebih luas. Maka, pelatihan ini tidak berhenti pada kegiatan satu hari, tetapi dilanjutkan dengan pendampingan dan pembentukan komunitas alumni Santri Matic yang dapat terus berkembang,” jelasnya.
Pembekalan Materi Digital
Dalam program Santri Matic, para peserta mendapatkan pembekalan mengenai pemanfaatan Shopee Marketplace, strategi promosi, pengenalan ShopeeFood, hingga Shopee Affiliate Program. Santri juga mengikuti praktik pembuatan konten digital bersama mentor dan praktisi industri.
Deputy Director Government Relations Shopee Indonesia, Balques Manisang, mengatakan kolaborasi tersebut merupakan upaya memperluas akses dan literasi digital bagi masyarakat. Akses itu termasuk bagi kalangan santri.
Shopee juga menyediakan fasilitas edukasi melalui Kampus UMKM Shopee yang menghadirkan kelas daring gratis. Materinya mencakup optimalisasi iklan, strategi mengikuti kampanye, hingga pengelolaan operasional usaha.
Santri Harus Jadi Kreator
Sementara itu, Wali Kota Surakarta Respati Achmad Ardianto turut mendorong santri agar mampu menciptakan produk ekonomi kreatif secara mandiri. Santri juga didorong membangun model bisnis sendiri.
“Santri jangan hanya menjadi reseller dari produk-produk ekonomi kreatif. Santri harus menjadi kreator produk ekonomi kreatif. Kami juga memiliki Program Santri Next Level untuk meningkatkan nilai tambah santri sehingga mereka tidak hanya menjadi pemain, tetapi juga mampu menjadi kreator dan membangun model bisnisnya sendiri,” tegas Respati.
Cerita Peserta
Salah satu peserta Santri Matic, Risyam, mengaku mendapatkan banyak wawasan baru dari pelatihan tersebut. Ia merupakan staf pengajar di Ma’had Ali Menara Quran Karanganyar. Ia telah aktif menjadi afiliator selama empat bulan dan memperoleh penghasilan tambahan di luar gajinya.
“Alhamdulillah, selama empat bulan menjadi afiliator, hasilnya cukup untuk menjadi penghasilan tambahan di luar gaji. Pelatihan hari ini juga keren karena banyak insight yang didapatkan. Apalagi kami bisa bertemu langsung dengan kreator konten, affiliator, dan belajar cara mereka bekerja secara digital atau sesuatu yang biasanya hanya kami lihat melalui media sosial,” tutur Risyam.
Program Santri Matic merupakan bagian dari program Generasi Melek Teknologi (Gen Matic) Kementerian Ekraf. Melalui program ini, pemerintah berupaya memperkuat kapasitas digital santri. Pemerintah juga mendorong tumbuhnya wirausaha berbasis pesantren agar mampu berkembang dan bersaing di pasar digital global.













Komentar