Kurvanews.com-Indonesia bukan sekadar jantung dari Segitiga Terumbu Karang Dunia. Bagi para pencinta scuba diving, Indonesia layaknya sebuah surga dunia. Mengapa? Karena perairan Indonesia adalah rumah bagi berbagai spesies laut endemik. Makhluk hidup unik itu hanya bisa ditemukan di wilayah tertentu di Nusantara dan tidak ada di tempat lain di dunia.
Berikut tiga spesies laut endemik legendaris yang hanya bisa Anda saksikan langsung di habitat aslinya di Indonesia.
Hiu Berjalan (Walking Shark / Hemiscyllium spp.)
Bayangkan sebuah dunia bawah laut ketika tiba-tiba seekor hiu kecil melintas. Namun, ia tidak berenang, melainkan “berjalan” dengan anggun di atas terumbu karang. Inilah Hiu Berjalan, sebuah keajaiban evolusi yang menjadi daya tarik utama penyelaman malam (night dive) di kawasan Indonesia timur [Hemiscyllium halmahera].
Alih-alih mengarungi air terbuka seperti hiu pada umumnya, predator kecil yang eksklusif ini menggunakan sirip dada (pektoral) dan sirip panggulnya bagaikan kaki. Sirip itu dipakai untuk merayap di dasar laut mencari krustasea kecil. Hewan ini bersifat nokturnal (aktif malam hari). Karena itu, Anda wajib melakukan night dive (penyelaman malam hari) untuk bisa melihat mereka berburu di dasar laut.
Untuk menyaksikannya, Anda harus mengagendakan penyelaman ke surga selam dunia. Beberapa lokasi itu antara lain Raja Ampat (Hemiscyllium freycineti), perairan Halmahera Barat (Hemiscyllium halmahera), atau menyusuri kedalaman Teluk Cendrawasih [Hemiscyllium halmahera].
Psychedelic Frogfish (Histiophryne psychedelica)
Bagi komunitas penyelam global, spesies yang satu ini adalah legenda hidup. Psychedelic Frogfish atau ikan kodok psikedelik adalah salah satu ikan paling langka dan paling dicari di planet bumi [Ambon frogfish].
Ikan ini tidak memiliki sisik, melainkan kulit tebal bergelombang dengan pola pusaran garis-garis berwarna merah muda, kuning, dan putih yang menyerupai sidik jari [Histiophryne psychedelica]. Bentuk wajahnya yang datar dengan mata menghadap ke depan memberikan ekspresi visual yang sangat unik. Karena tidak bisa berenang dengan baik, mereka bergerak dengan cara melompat atau menyemburkan air dari insangnya. Cara itu menciptakan efek dorongan roket di atas pasir.
Bagi pecinta macro diving dan fotografi bawah laut, ikan ini adalah “Cawan Suci” (Holy Grail). Kodok laut ini memiliki corak garis-garis pusaran psikedelik berwarna merah muda dan kuning yang sangat langka. Mereka tidak berenang, melainkan melompat atau mendorong tubuhnya di dasar laut yang berpasir. Dengan tubuh kecil berhias garis hitam-putih yang anggun dan sirip yang melambai indah, mereka berenang berpasangan di antara duri-duri bulu babi. Keberadaan mereka yang sangat terbatas menjadikan mereka seperti permata tersembunyi yang rapuh.
Spesies ini memiliki sifat endemik yang sangat ekstrem. Anda hanya bisa menemukannya jika melakukan muck diving (penyelaman di dasar laut berpasir/berlumpur) di situs-situs selam tertentu di Ambon, Maluku [Psychedelic frogfish]. Menemukannya membutuhkan kejelian tingkat tinggi atau bantuan dari dive guide lokal yang berpengalaman.
Banggai Cardinalfish (Pterapogon kauderni)
Jika Anda menyukai penyelaman yang tenang di perairan dangkal yang terlindungi, Anda akan terpesona oleh Banggai Cardinalfish. Ikan kecil berukuran sekitar 8 sentimeter ini menjadi ikon kebanggaan laut Indonesia. Estetikanya memukau dengan tubuh perak yang dihiasi garis-garis hitam vertikal tegas serta bintik-bintik putih berkilau di siripnya yang panjang dan anggun.
Mereka tidak suka berenang di laut lepas yang berarus kuat. Sebaliknya, ikan ini memilih hidup damai di perairan dangkal. Mereka berlindung di antara sela-sela tentakel anemon atau di antara duri tajam bulu babi yang menjadi benteng pertahanan alami mereka dari predator.
Hal paling menarik dari ikan ini adalah perilakunya. Mereka adalah mouthbrooder, di mana ikan jantan akan mengerami telur-telur di dalam mulutnya selama berminggu-minggu. Selama periode ini, sang jantan yang tangguh rela berpuasa demi memastikan keturunannya menetas dengan aman dari ancaman dunia luar.
Di alam liar, mereka hidup berkoloni dan berlindung di antara duri-duri tajam bulu babi atau tentakel anemon laut untuk menghindari predator. Ikan kecil bergaris hitam-putih dengan sirip panjang yang anggun ini hidup bersimbiosis di antara duri-duri bulu babi atau anemon laut. Karena ukurannya yang kecil dan habitatnya yang tenang, Anda perlu menyelam lambat di area terumbu karang dangkal yang terlindung untuk melihatnya.
Sesuai namanya, habitat asli dan tempat terbaik untuk melihat mereka dalam jumlah besar adalah di Kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah. Namun, akibat introduksi, Anda kini juga bisa menjumpai koloni ikan indah ini saat menyelami destinasi macro terkenal di Selat Lembeh, Sulawesi Utara [Banggai cardinal fish (Pterapogon kauderni), Lembeh Resort].
Melihat foto atau video makhluk-makhluk ini di layar ponsel tidak akan pernah bisa menandingi sensasi magis saat Anda berbagi udara yang sama di bawah air bersama mereka. Keberadaan spesies endemik ini menjadi bukti nyata betapa kayanya biodiversitas Indonesia. Sekaligus pengingat pentingnya menjaga kelestarian terumbu karang kita.
Jadi, siapkan logbook Anda, periksa kembali regulator Anda, dan jadwalkan petualangan diving Anda berikutnya ke jantung samudra Indonesia. Surga bawah laut ini sedang menunggu Anda untuk menyaksikan keajaiban yang tidak akan bisa ditemukan di tempat lain di seluruh dunia.













Komentar